Mitra-solusindo.com , Jakarta - Kegiatan operasi minyak dan gas di Indonesia masih sering dihambat oleh gangguan-gangguan non teknis mulai dari pencurian hingga premanisme. Ini turut menyebabkan penurunan produksi migas Indonesia.
Sebanyak 3.000 barel minyak mentah Indonesia dicuri lewat pipa-pipa diberbagai lapangan minyak di Indonesia oleh maling sepanjang 2011.
Demikian disampaikan oleh Kepala Divisi Humas, Sekuriti, dan Formalitas, BP Migas Gde Pradnyana dalam siaran pers, Rabu (1/2/2012).
"Gangguan operasi yang dialami kontraktor kontrak kerjasama (KKKS) migas menghambat upaya peningkatan produksi minyak dan gas bumi tahun 2012," kata Gde.
Gde mencontohkan soal berhentinya produksi Sele Raya di blok Merangin Dua, lapangan Tampi, sebesar 1.300 barel per hari sejak 23 Januari 2012 lalu. "Saat ini produksinya hanya 80 barel per hari," kata Gde.
Produksi Sele Raya terhenti seiring keluarnya surat Bupati Musi Rawas yang memerintahkan penghentian pengangkutan minyak mentah menggunakan truk tangki sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
Dalam suratnya tersebut, secara sepihak, pemerintah kabupaten Musi Rawas membatalkan perjanjian kerja sama pemanfaatan jalan untuk pengangkutan minyak mentah antara pemerintah Musi Rawas dengan Sele Raya.
Namun tidak hanya Sele Raya, terjadi juga demo di kantor dan fasilitas produksi Chevron di Minas dan Rumbai, Riau. Hal serupa juga dialami Santos di Sampang dan Sumanep, Madura.
"Tidak hanya menghambat produksi, kendala-kendala tersebut juga membuat ketidakpastian investasi," jelas Gde.
Diakui Gde, Sumatera Bagian Selatan tercatat sebagai daerah yang paling banyak mengalami gangguan operasional seperti pencurian, vandalisme, premanisme, demo, hingga kebocoran pipa.
Di 2011 tercatat 346 gangguan terjadi di Sumatera Selatan. "Data tersebut berdasarkan laporan yang diterima BPMIGAS. Tidak menutup kemungkinan ada gangguan yang tidak dilaporkan," imbuh Gde.
Masalah yang paling menonjol di Sumatera Bagian Selatan menurut Gde adalah pencurian minyak mentah. KKKS yang sering melaporkan kejadian pencurian minyak, antara lain Pertamina EP, Medco E&P (Rimau), ConocoPhillips (Grissik), dan UBEP Jambi.
"Kehilangan minyak yang tercatat di 2011 sekitar 3.000 barel, tapi kami yakin jumlahnya jauh lebih besar dari angka itu," kata dia.
Gde mengakui, gangguan operasional berkontribusi pada penurunan produksi migas. "Faktor non teknis menyumbang 60% penyebab turunnya produksi," katanya.
BP Migas mengajak semua pihak terkait bekerja sama mengurangi gangguan operasional yang dihadapi kontraktor di lapangan.
(dnl/hen)
Editor: Wahyu Daniel
[DETIKFinance] COPYRIGHT © 2012
Informasi pemasangan iklan
hubungi Yunita
telepon 0356712614 / 085645229854







